Sebuah Penghargaan untuk Ibu yang Tak Pernah Menyerah
10 Desember 2025 menjadi hari yang penuh makna bagi Ibu Nadiya. Setelah melalui perjalanan panjang dengan beragam lika-liku dan tantangan yang tidak mudah, sebuah pengakuan akhirnya diberikan kepada seorang ibu yang telah setia membersamai putranya dengan gangguan pendengaran hingga tumbuh dan berkembang layaknya anak tanpa hambatan pendengaran.
Penghargaan Ibu Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia diserahkan langsung oleh Menteri Arifatul Choiri Fauzi kepada Ibu Nadiya—ibunda dari Haydar, pengguna cochlear implant—seorang ibu yang menjadi kebanggaan keluarga kecilnya.
“Atas kasih tanpa batas dan jiwa pemberani yang mengasuh anak istimewa.”
Kalimat ini seolah merangkum seluruh perjalanan Ibu Nadiya. Ia menjadi bahasa cinta pertama bagi Haydar, menjadi suara pertama yang ia dengar, dan menjadi alasan mengapa Haydar tumbuh sebagai pribadi yang sehat, cerdas, dan mandiri.
Di balik penghargaan tersebut, terselip pesan sederhana namun kuat dari Ibu Nadiya untuk para ibu di luar sana:
“Kita tidak sendiri. Ada Yang Maha Kuasa yang selalu mendampingi. Maka berusahalah semaksimal mungkin dan berdoalah sekuat tenaga, agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, serta nusa dan bangsa.”
Perjalanan yang Tak Mudah, Namun Menyenangkan
“Pernahkah Ibu merasa lelah dan ingin menyerah?”
Pertanyaan ini dilontarkan oleh tim MEDEL saat bertemu dengan Ibu Nadiya pada Senin pagi, 19 Desember 2025. Dengan suara mantap, ia menjawab “Tidak pernah. Karena Haydar adalah anak yang ceria, jadi saya selalu merasa senang membersamainya.”
Mendampingi anak dalam proses belajar mendengar dan berbicara adalah perjalanan yang menuntut kesabaran luar biasa. Pembelajaran tersebut bukan hanya bagi anak, tetapi justru lebih besar bagi orang tua yang mendampinginya.
Dua puluh tahun lalu, akses informasi seputar gangguan pendengaran tidak semudah saat ini. Namun Ibu Nadiya meyakini bahwa ketika seorang anak dititipkan kepadanya, itu adalah tanda bahwa Tuhan percaya ia mampu menjalani amanah tersebut.
Selama lebih dari 20 tahun, Ibu Nadiya hadir tanpa jeda dalam keseharian Haydar. Ia mempelajari banyak hal—mulai dari gangguan pendengaran, dunia anak dengan hambatan pendengaran, pilihan terapi, hingga yang paling penting tentang bagaimana membangun dan menyesuaikan harapan.
Ia dan suami menyadari bahwa keberhasilan Haydar tidak datang secara instan, melainkan melalui pemilihan alat yang tepat dan konsistensi dalam terapi—sebuah proses yang membutuhkan waktu dan ketekunan.
Memastikan Setiap Langkah Sesuai Kebutuhan Anak
Bagian paling menarik dari perbincangan dengan Ibu Nadiya adalah bagaimana ia berhasil mengantarkan Haydar hingga lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta.“Keputusan menggunakan implant pendengaran membawa perubahan yang sangat signifikan dalam hidup Haydar,” tutur Ibu Nadiya.
Sebelumnya, selama tiga tahun Haydar menggunakan alat bantu dengar dan sudah memperoleh manfaat maksimal. Namun setelah manfaat tersebut mencapai batas optimal, Ibu Nadiya dan suami memutuskan untuk melangkah lebih jauh untuk mendapatkan hasil lebih baik dengan cochlear implant.
“Masih ada banyak konsonan yang hilang atau belum bisa dilafalkan dengan jelas. Jika dibandingkan dengan anak seusianya, Haydar masih tertinggal. Itu yang membuat kami memutuskan untuk memasang implant pendengaran,” jelasnya. Dan keputusan inilah yang kemudian membawa perubahan yang siknifikan pada kemampuan komunikasi Haydar.
Tak hanya menghadapi tantangan pendengaran, Ibu Nadiya juga harus menangani karakter Haydar yang sangat aktif. Bersama suami, ia berkonsultasi dengan ahlinya. Selama satu tahun, Haydar menjalani pengobatan untuk membantu mengendalikan keaktifannya—dan hasilnya cukup signifikan. “Saya belajar bahwa jika anak memiliki masalah bawaan lain, selesaikan dulu itu agar proses terapi berikutnya bisa berjalan lebih optimal,” tambahnya.
Semua pengalaman tersebut menjadi proses pendewasaan bagi Ibu Nadiya. Kedisiplinan yang ditanamkan sejak dini membentuk Haydar menjadi pribadi yang berani dan bertanggungjawab, termasuk saat ia memutuskan masuk pesantren di usia SMP. Masuk pesantren adalah keputusan yang cukup besar dalam hidup Haydar, karena berarti ia harus berpisah dengan orang tuanya.
Apakah Ibu Nadiya khawatir?
“Saya tidak khawatir. Kami sudah membekali Haydar dengan apa yang ia butuhkan. Tantangan terbesar justru meyakinkan orang tua saya,” ujarnya sambil tersenyum.
Ya, keputusan itu terbukti tepat. Di pesantren, Haydar tumbuh dengan baik dan bahkan berhasil menjadi hafiz Al-Qur’an.
Ibu Nadiya di Mata Suami dan Haydar

Di mata sang suami, Bapak Eki, Ibu Nadiya adalah sosok ibu yang penuh tanggung jawab. “Sejak awal kami sepakat bahwa tugas orang tua adalah berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk anak istimewa kami. Dan menurut saya, Nadiya telah melakukan yang terbaik,” tuturnya. Dalam kesempatan itu juga, Bapak Eki tak lupa menitipkan pesan untuk semua ibu hebat di luar sana agar tetap semangat dalam membersamai putra-putrinya. “Selalu berusaha dan berdoa sekuat tenaga, dan serahkan hasilnya pada yang di atas,” tambahnya.
Bagi Haydar, Mama adalah pahlawan. Ia menyadari bahwa dirinya tidak mungkin berada di titik ini tanpa peran besar Mama dan Papa.
“Kalau boleh minta, aku ingin Mama panjang umur supaya bisa terus bersama-sama. Kalau ditanya mau kasih apa ke Mama, aku pengin kasih Mama uang yang banyak,” ujar Haydar polos.
Ucapan itu disambut senyum hangat dari Ibu Nadiya—senyum seorang ibu yang tahu bahwa semua perjuangannya tidak pernah sia-sia.





Leave a Reply